Kenaikan debit Kali Bekasi akhir-akhir ini menjadi peringatan keras bagi warga di sepanjang bantaran sungai, terutama di wilayah Babelan, Kabupaten Bekasi. Curah hujan tinggi yang melanda Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir membuat volume air sungai melonjak signifikan, memaksa masyarakat setempat bergerak cepat memasang tanggul darurat dari karung berisi pasir dan material seadanya. Langkah antisipatif ini dilakukan demi mencegah luapan air masuk ke permukiman padat penduduk yang berada hanya beberapa meter dari bibir sungai.
Hingga kini, tanggul darurat tersebut menjadi benteng pertahanan utama warga menghadapi ancaman banjir kiriman. Para relawan dan warga bergotong royong sejak subuh memperkuat struktur tanggul sepanjang lebih dari 200 meter. “Kami tidak mau kecolongan seperti tahun lalu. Begitu dapat informasi dari BPBD soal kenaikan debit, langsung kami siapkan material,” ujar Samsul, ketua RT setempat. Meski demikian, tanggul darurat ini dinilai belum cukup kuat menghadapi hujan deras berkepanjangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi telah mengimbau warga di 12 kelurahan rawan banjir untuk meningkatkan kewaspadaan hingga level siaga.
Dampak Lingkungan dan Infrastruktur yang Rentan
Kali Bekasi yang menjadi salah satu urat nadi drainase kawasan timur Jakarta kerap mengalami sedimentasi berat akibat sampah dan limbah domestik. Hal ini memperparah kapasitas tampung sungai saat musim hujan. Selain itu, alih fungsi lahan di hulu sungai—dari area resapan menjadi permukiman dan industri—turut mempercepat laju air menuju hilir. Warga Babelan yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan tambak dan buruh pabrik kini hidup dalam ketidakpastian. Aktivitas ekonomi terganggu, sementara akses jalan penghubung menuju Jakarta sempat terputus akibat genangan setinggi 30 cm.
Langkah Preventif untuk Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir seperti di Babelan perlu memahami pentingnya mitigasi bencana berbasis komunitas. Selain memasang tanggul darurat, warga disarankan menyimpan dokumen penting di tempat kedap air, menyiapkan logistik darurat selama 3×24 jam, serta mengenali jalur evakuasi terdekat. Informasi cuaca dan ketinggian muka air sungai dapat dipantau melalui aplikasi resmi BPBD atau situs web terkemuka seperti https://harberthouse.net/POLICIES.html yang menyediakan panduan kesiapsiagaan bencana berbasis data terkini.
Pemerintah daerah juga diminta mempercepat normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir permanen. Partisipasi aktif warga dalam menjaga kebersihan sungai dari sampah menjadi kunci mengurangi risiko banjir di masa depan. Solidaritas komunal seperti yang ditunjukkan warga Babelan patut diapresiasi sebagai contoh nyata ketangguhan menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim.