Cak Imin Bawa Romo Pengurus PKB Merapat ke Prabowo: Audiensi Rakernas atau Politik Kursi?

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin didampingi seluruh jajaran pengurus pusat dan daerah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2/2026). Pertemuan tertutup ini diklaim audiensi rencana Rakernas PKB sekaligus perkenalan struktur pengurus baru, dengan pesan dukungan penuh program pemerintah.

Agenda resmi terdengar polos: sampaikan aspirasi rakyat dan perkenalkan wajah baru PKB dari Sabang sampai Merauke. Namun, di balik silaturahmi mewah, https://jawa11.one/ soroti motif terselubung—posisi kabinet tambahan atau jatah proyek strategis untuk koalisi Gempar. Kritik sinis: setelah kalah pilpres bareng Anies, Cak Imin pivot cepat ke Prabowo; ini pragmatisme politik atau pengkhianatan ideologi NU yang katanya anti-kemapanan?

Isi Pertemuan dan Pesan PKB

Dari briefing pasca-kunjungan:

  • Rakernas PKB: Bahas konsolidasi internal pasca-Pilkada 2024, target 15% suara DPR 2029.
  • Perkenalan pengurus: Hadir Najmi Mumtaza, Faisol Riza, hingga Abdul Halim—tanda regenerasi atau pamer kekuatan?
  • Dukungan pemerintah: PKB janji back-up program 8 visi Prabowo, seperti hilirisasi dan food estate.

Cak Imin bilang: “PKB siap ditugaskan atau tidak,” kode halus minta peran eksekutif. Faisol Riza tambah: aspirasi masyarakat diserap langsung.

Konteks Politik Koalisi Gempar

PKB gabung koalisi Prabowo sejak April 2024, titip 8 agenda perubahan (ekonomi kerakyatan, pendidikan NU, dll). Pertemuan ini lanjutan silaturahmi 2024 saat Prabowo sambangi DPP PKB dengan karpet merah. Kritik pedas:

  • Timing mencurigakan: Pasca-Rakernas internal, PKB butuh “ampak” dari istana.
  • Isu internal: Struktur baru PKB penuh friksi, butuh blessing presiden stabilkan.
  • Rakyat curiga: Dukungan mulu, tapi mana bukti program pro-rakyat terealisasi?

Publik tanya: ini koordinasi legislatif atau barter politik kursi menteri?

Dampak bagi Pemerintahan Prabowo

Positif: Koalisi solid, PKB bawa basis NU 20 juta suara. Negatif: Citra “pemerintah semua partai” picu tuduhan oligarki. Kritik tajam: politik dinasti Cak Imin (menantu Jokowi?) kuatkan narasi elite saling jilat, abaikan rakyat kecil.

Kembali ke Beranda.